Rabu, 18 Maret 2015

Cerpen Cinta: Bukan Cerita Biasa

Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.

Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda gurau habiskan masa-masa sekolah (dari tk, sd, smp, sampe sma) penuh suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan cinta.

***

Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.

Begini ceritanya,

Anatasha dan Reza, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.

Meski Reza tau Anatasha tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya saja, Reza tak kuasa menahan airmatanya manakala Anatasha memintanya pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 1 bulan lamanya menikmati dunia.

Bukit berbunga, tepat dibelakang sekolah akan jadi saksi cinta mereka yang setia. Tempat favorit yang sering mereka kunjungi untuk mendengarkan lagu kesukaan bersama, belajar bersama, menikmati indahnya sunset yang jingga, tempat yang penuh akan kenagan manis mereka.

Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu memudar dan akhirnya menghilang.
***

Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Reza, memburamkan pandangannya agar Anastasha menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja. Anatasha lah pemilik hati Reza seutuhnya. Hingga tak ada celah yang tersisa.

Tak sedikit air mata Reza yang tertumpah untuk Anatasha, manakala melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi kenangan.

Tak kalah hebat cinta Anatasha untuk Reza, korban rasa jadi hal biasa untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi kebohongan belaka. Hingga Reza tak terluka lagi dihatinya. Meski ceroboh tapi Anatasha melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.

Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.

T ak banyak yang bisa dipersembahkan Reza untuk Anatasha yang waktunya hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama membuka handphone, airmatanya bercucuran di pipi. ‘waktu anda tersisa 1 jam’ begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya berderai.

“Kenapa Reza menangis.”

“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya tulus keluar dari mataku,” Reza hanya tersenyum agar Anatasha tak mengkhawatirkan perasaannya.

“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.

Reza hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.

“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Reza menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada, “Atau kamu mau aku menunggumu kembali?” lanjut Reza.

Airmata tulus mulai meleleh dari mata Anatasha. “Sudah saatnya cintamu diperbarui!!! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”

“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu. Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.”

“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?”

“Aku akan menunggunya kembali!!! Kapanpun aku menemukannya, aku akan mencintainya lagi. Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.”

Anatasha menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.

“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”

“Gendong aku kemanapun kamu mau, kemudian bila aku diam, jangan pernah menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku menghilang.”

“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.” Lanjut Anatasha terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.

“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih cepat dari biasanya.”

“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka lagi?” lanjut Reza dengan airmata yang perlahan menetes.

“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia sepenuhnya akan terbuka.”

“Tidak….! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.”

“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Anatasha mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.

Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.

SELESAI

Debu yang Mulia

Seakan berbisik membawa berita pagi
keluar dari sela-sela pipa besi panjang
bagai senandung berirama abstrak

Ku tatap langit gagah membentang
namun tak biru lagi warnanya
terhalang pekat, terbendung sinarnya

Menggunung dan meluap
mengikat jantung menarik nafas
hingga aku jatuh dan memohon

Goresan tinta tanda kepedulian
berkumandang lantang di atas mimbar
bagai telur tanpa kuningnya

Mungkin terlalu tua untuk di jaga
Mungkin terlalu dini ditanyakan
Dan mungkin terlalu lama jawaban itu ada

Kini hanya tersisa kertas ini sebagai tanda debu yang mulia

MATI

Aku mendengar, melihat, dan merasakan
Aku berdiri, berjalan, bahkan berlari
Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan
Tapi mengapa aku tak pernah merasakannya?
Apakah aku telah mati?

Ku tatap cermin di depanku
Ku raba wajahku
Sejenak terlintas di fikiranku
Inikah aku?

Ragaku melakukannya
Tapi jiwaku terasa mati
Beku
Tak dapat ku rasa apa-apa lagi

CERITAKU

Keringat dari keningku mulai menetes
Bibir merahku mulai pucat
Oh.. begitu lelahnya aku hari ini
Hari dimana aku mulai berlari
Menyusuri waktu demi waktu
Detik demi detik ku nikmati
Lembaran-lembaran yang harus ku kerjakan
Lagi lagi membuatku semakin jenuh
5 menit lagi terdengarlah alarm
Saatnya pergi dari kandangku
Melewati hiruk pikuk tepian jalan jawa
Kendaraan yang lalu lalang membuatku semakin kesal
Setelah beberapa menit aku berjalan
Sampailah aku pada satu tujuan
Memasuki ruang kelasku
Sambutan teman-teman tak terdengar di telingaku
Mereka bisu menatapku
Yang ku dengar hanyalah ocehan dosen kiler di depanku
Ah.. aku telat lagi
“kenapa telat”
Aku tak menjawab
Tertunduk aku dalam kesalahan ini
Maafkan aku bu dosen
Kaki tanganku mulai gemetar
Aku mulai mencari lembaran-lembaran tugasku
Ku rogoh tas kecilku
Oh tidaakkk… !!
Lembaran tugas yang selama seminggu aku kerjakan penuh waktu
Teryata ketinggalan di kos
“mana tugasmu,, hari ini terakhir dikumpulkan“
Oops.. maaf bu ketinggalan
Wajahnya mulai gelisah menatapku
Seolah bosan mendengar alasan ini
“keluar dari kelas saya”
Kata-kata ini seharusnya tak ku dengar hari ini
Namun apa dayaku
Langkah kakiku kini tak lagi maju
Namun sedikit mundur satu langkah
Yang tersisa kini hanyalah penyesalan yang tak berarti……

RATAPAN ANAK KOS

Berjuang dalam mencari jejak di masa depan
Meski jauh dari kampung halaman
Namun semua harus dijalani tanpa hambatan
Demi merubah hidup yang susah selama ini telah menjadi suratan
Tinggal di rumah orang yang di bayar
Tidur dalam kamar yang beralaskan tikar
Berbantalkan dari alas tangan yang tegar
Terkadang menagis demi menahan lapar
Ratapan anak kos tidak pernah berakhir
Laksana gelombang yang datang bergilir
Laksana embun di pagi hari yang terus mengalir
Ini sangat terlihat di saat minggu-minggu terakhir
Memang susuh untuk menjadi orang yang pintar
Harus menderita seorang diri dalam belajar
Bagaikan membaca sehelai kertas sambil berlayar
Bagaikan betanam mawar di hamparan pasir yang lebar
Seakan semua itu mustahil untuk dikejar
Meski pahit yang banyak dirasakan
Rasa semangat ini tidak akan tergoyahkan
Meski badai topan yang datang mengoda untuk berhenti berjalan
Demi mengenag orang tua yang hanya tinggal tulung pembalut badan
Dalam mengharap hidup tidak lagi di hina orang lain
Supaya tidak dikatakan orang yang tidak berpendidikan

Seni Kehidupan dan Sepak Bola

Seni..
Tanpa seni dunia terasa tak berada
Sebab Tuhan menciptakan dunia dengan aneka warna

Keringat adalah sebuah ekspresi
Ekspresi dari kerja keras di lapangan
Jauh di sana 22 gladiator lapangan mulai bersiap menunjukkan tajinya

Tapi jangan lupakan pemain pasif ini
Yaitu penonton
Meskipun pasif, tanpa penonton seni mengelola bola ini terasa hampa

Menang-kalah adalah bagian dari kehidupan fana ini
Sebagai hasil dari pergulatan 90 menit ini
Meskipun kalah adalah bagian yang menyakitkan, tapi menerima dengan lapang dada adalah cara yang hebat
Seperti berpasrah akan keadilan takdir

Ya.. keringat adalah bagian dari kerja keras di lapangan maupun di kehidupan
Hidup sendiri adalah bukan kenyataan
Hidup bersama teman adalah realita

Memberi bola adalah seperti melempar kepercayaan
Meskipun sulit tapi harus percaya
Demi sebuah hasil yaitu kemenangan yang belum pasti
Di lapangan dan di kehidupan

Banci

Banci
Mungkin, kami bukanlah manusia
Karena kami tak bisa mengisi biodata
Kami terpaksa
Bersensasi, untuk dicela

Jangan kau remehkan kami
Memang tak pantas kami bersuara
Tapi kami tetaplah seorang ksatria
Menentang Tuhan, walau kami tau itu salah

Kami lemah
Karena kami adalah hamba
Yang tak sedap dilihat, kasar bila diraba
Hati kami, kami tetaplah seorang ayah